Kamis, 25 Agustus 2016

BHS.INDONESIA

BHS.INDONESIA

A. Majas Perbandingan

Majas Perbandingan gaya bahasa berkias yang menyatakan perbandingan untuk meninggalkan  kesan dan juga pengaruh tertentu terhadap pendengar ataupun pembaca. Jika kita tinjau dari cara mengungkapkan perbandingannya, Majas Perbandingan terbagi atas :


1) Majas Asosiasi atau Perumpamaan

Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan terhadap dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini biasanya ditandai dengan penggunaan  kata bagai, bagaikan, seperti, , seumpama, bak dan laksana.
Contoh :
  • Wajahnya bagaikan rembulan.
  • Rambutnya bak mayang yang terurai.
  • Dia mewarisi sifat seperti seekor singa.
  • Badannya  seperti samson.
  • Watak dan karakternya seperti batu.

2) Majas Metafora
Metafora adalah gaya bahasa yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Kata atau kelompok kata yang dipakai bukan dalam arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, seperti kata bunga desa dalam kalimat “ Zahro adalah bunga desa yang diidamkan oleh banyak pria”. Contoh lainnya sebagai berikut:

Contoh:
  • Ia sangat terpukul dengan kepergian belahan hatinya
  • Raja siang keluar dari ufuk timur
  • Rosyid selalu menjadi bintang kelas setiap semester
  • Ronaldo menjadi mesin pencetak gol bagi Madrid
  • Pak Tono adalah tangan kanan ayahku.
  • Si kutu buku itu jarang sekali keluar rumah.

4) Majas Alegori
Majas Alegori adalah majas yang menyatakan sebuah perihal dengan mengunakan kiasan atau penggambaran.
Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.

Contoh:
  • Menjalani kehidupan rumah tangga sama halnya seperti kita mengarungi lautan dengan sebuah bahtera. Terkadang kita akan dibawa menyaksikan keindahan samudra yang begitu menakjubkan. Namun tak jarang  kuatnya ombak akan mengombang-ambing tubuh kita.
  • Dunia ibarat tumbuhan hijau yang menyihir setiap mata yang memandang. Indah dan begitu menakjubkan. Namun lambat laun ia akan menguning, kering dan pada akhirnya musnah
  • Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.

3) Majas Personifikasi
Personifikasi adalah majas atau gaya bahasa  yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seakan-akan memiliki sifat seperti manusia.

Contoh:
  • Badai mengamuk dan memporakporandakan rumah
  • Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.
  • Hujan rintik menari-nari diatas genting
  • Peluit wasit menjerit panjang menandai akhir dari pertandingan sore ini.
  • Api telah melahap seisi rumah gubuk itu

5) Majas Simbolik
Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda, binatang, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang tertentu yang dapat menggantikan kata yang ingin diutarakan.

Contoh:
  • Ia terkenal sebagai buaya darat ( playboy)
  • Rumah itu hangus dilalap si jago merah ( api )
  • Aku tidak suka berteman dengan bunglon (tidak berpendirian)
  • Pada bulan ini KPK berhasil meringkus banyak tikus. (koruptor)
  •  Meminjam uang dari lintah darat bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah keuangan.

6) Majas Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut. Pengungkapan tersebut berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.

Contoh:
  • Ia berangkat ke rumahku hanya dengan  mengenakan Cubitus. (kaus)
  • Pak Toni berangkat ke kantor dengan Bata (sepatu)
  • Ayah membaca koran sambil menikmati Kapal Api (kopi)
  • Setelah makan, Ani minum satu gelas Aqua. ( air )
  • Pejalan kaki itu tewas tertabrak Kijang. (mobil)
  • Pak guru menegornya setelah kepergok menghisap Jarum (rokok)

7) Majas Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya seluruhnya untuk sebagian. Majas sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.
1) Sinekdok Pars pro toto, Yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:
  • Untuk bisa masuk ke pasar malam, perkepala hanya ditarif biaya sekitar Rp. 10.000 saja.
  • Ayah membeli satu ekor kambing untuk disembelih dan dijadikan gulai.
2)  Majas Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
    Contoh:
  • Barcelona mencetak gol kemenangannya pada menit ke 80.
  • Menonton TV memberikan dampak negatif pada perkembangan anak.
  • Polri berhasil meringkus kawanan  begal yang sering beraksi di daerah Lampung Utara.
8. Majas Simile:
Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai". Simile hampir sama dengan majas asosiasi, hanya beda-beda tipis saja. Untuk lebih jelas baca saja : 

Contoh:
  • Tubuhnya seperti tiang yang tinggi menjulang.
  • Wajahnya bercahaya bagaikan rembulan yang selalu menerangi kegelapan malam.
  • Dia pemberani bak seekor singa yang tidak pernah gentar dengan musuh sekuat apapun
  • Kerjanya seperti mesin yang tidak pernah berhenti.
  • Wataknya  seperti batu yang sangat sulit untuk dilunakkan.

B. Majas Pertentangan

Majas Pertentangan adalah “Gaya bahasa atau kata-kata berkias yang menyatakan pertentangan maksud sebenarnya oleh pembicara atau penulis dengan tujuan untuk memberikan kesan dan pengaruhnya kepada pembaca atau pendengar”. Macam-macam Majas Pertentangan dibedakan menjadi berikut.


1) Majas Antitesis
Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang berantonim atau berlawanan arti dalam satu kalimat.

Contoh:
  • Dia kerja siang malam untuk mewujudkan cita-citanya
  • Menang kalah merupakan sesuatu yang biasa dalam sebuah pertandingan
  • Miskin kaya, cantik buruk sama saja di mata Alloh
  • Perjalanan pulang pergi Jakarta Bogor memakan waktu yang tidak terlalu lama
  • Pekerjaan kantor tidak pernah menghalangi  hobinya untuk naik turun gunung

2) Majas Paradoks
Pengungkapan dengan menyatakan dua hal atau dua situasi yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar. Paradoks juga merupakan opini yang besebangan dengan kebiasaan yang ada sehingga terkesan aneh dan dapat mencuri perhatian si pendengar atau pembaca.

Contoh:
  • Aku merasa kesepian di tengah keramaian
  • Di balik senyum manisnya terpendam luka yang mendalam
  • Meski cuaca sangat panas, pikiran harus dingin
  • Selalu ada hikmah yang dapat kita petik dari setiap musibah

3) Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah  pernyataan yang berlebihan yang melampaui kenyataan sebenarnya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau mencuri perhatian.
Contoh:
  • Keringatnya sampai menganak sungai.
  • Tak jarang seorang ayah harus membanting tulang demi keluarga.
  • Badannya sangat kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang.
  • Setiap hari dia memeras keringat demi mendapatkan sesuap nasi
  • Ia dapat menghitung secepat kilat

4) Majas Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara merendah dibawah dari kenyataan yang sesungguhnya. Litotes biasa digunakan sebagai bentuk basa-basi dengan tujuan merendah atau menghormati lawan bicara.

Contoh:
  • Hanya kado kecil ini yang bisa aku berikan.
  • Mampirlah sejenak untuk mencicipi hidangan yang ala kadarnya ini.
  • Perkenankan hamba yang bodoh ini untuk menyampaikan pendapat.
  • Saya hanya orang desa yang beruntung mengenyam pendidikan.
  • Hanya hal remeh seperti ini yang bisa saya perbuat

C. Majas Penegasan

Majas Penegasan ialah gaya bahasa yang mengandung kata kiasan yang dipergunakan untuk memberikan penegasan. Hal ini diakaukan guna meningkatkan kesan serta pengaruh terhadap pendengar atau pembaca”.Majas penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut.

1) Majas Pleonasme

Pleonasme adalah  penggunaan kata-kata yang sudah mafhum (dimaklumi) sebagai bentuk penegasan. Pada dasarnya tanpa kata-kata  tersebut sebuah kalimat sudah dapat difahami secara utuh.

Contoh:
  • Semua penghuni rusun bergegas  turun ke bawah untuk menyelamatkan diri dari kebakaran.
  • Pantang baginya untuk mundur ke belakang.
  • Hanya perwakilan demonstran saja yang diperkenankan masuk ke dalam untuk meakukan negoisasi.
  • Sedari tadi ia hanya merunduk ke bawah penuh penyesalan
  • Serentak para penonton mendongak ke atas menyaksikan manufer pesawat tempur TNI AU.

2) Majas Repetisi 

Repetisi adalah majas menggunakan perulangan kata-kata sebagai penegasan. Gaya bahasa seperti ini banyak kita temukan dalam sajak maupun pidato-pidato motifasi.

Contoh:
  • Hidup adalah perjuangan, hidup adalah pilihan, hidup adalah realita yang harus kita hadapi.
  • Dunia ini adalah fana,  dunia ini hanya tempat bersinggah, dunia ini hanya sementara.
  • Dialah yang kurindu, dialah yang kutunggu, dialah belahan hatiku. 
  • Cinta adalah misteri, Cinta adalah kesetiaan,Cinta adalah pengorbanan.
  • Hiduplah dengan visi, hiduplah dengan misi, hiduplah untuk menggapai prestasi

3) Majas Paralelisme

Paralelisme biasa digunakan untuk menunjukan suatu titik kesamaan kedudukan sesuatu yang sering dianggap sebagai suatu yang memiliki jarak karena memiliki karakteristik yan berbeda. Atau dapat juga paralelisme digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata yang diulang – ulang untuk menggambarkan makna yang ingin diutarakan sama dengan deskripsi dari kata yang diulang –ulang tersebut.

Pada intinya majas paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalam puisi.
Contoh:
Cinta adalah pengertian
Cinta adalah kesetiaan
Cinta adalah rela berkorban

4) Majas Tautologi

Tautologi merupakan jenis majas penegasan berupa  pengulangan  sebuah kata atau sinonim kata.
Contoh:
  • Bukan, bukan, bukan itu yang aku inginkan (menngulang kata; bukan)
  • Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara. (mengulang sinonim rukun)

5) Majas Klimaks

Klimaks adalah jenis majas penegasan yang menyatakan beberapa hal secara bertingkat dari yang terkecil/terendah hingga yang terbesar/tinggi.
Contoh:
  • Semua pihak mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua merasa bahagia dengan dibangunnya Masjid Nurul Amal.
  • Ketua RT, RW, Kepala Desa, Gubernur, bahkan Presiden harus sejajar di mata hukum.

6) Majas Antiklimaks
Antiklimaks adalah adalah kebalikan majas klimaks. Majas ini menyatakan beberapa hal secara berturut-turut yang makin lama semakin menurun.
Contoh:
  • Kepala sekolah, guru, staff sekolah, dan semua siswa SMP N 2 Bangun Rejo mengikuti upacara bendera.
  • Produk kami telah tersebar di seluruh daerah mulai provinsi, kota, kecamatan bahkan desa.

7) Majas Retorik

Retorik adalah majas penegasah yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuan pertanyaan yang dilontarkan tidak lain hanya untuk memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh:
  • Enak bukan bolos sekolah? Besok ulangi lagi ya!
  • Kamu selalu menghindar ketika aku sedih. Apa ini yang kamu bilang sahabat ? 
  • Negara kita nampak semakin carut-marut. Apa ini yang orang sebut "revolusi mental"?

D. Majas Sindiran

Susuai namanya majas sindiran ialah gaya bahasa yang mengandung sindiran untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca”. Majas sindirian dibagi menjadi:

1) Majas Ironi

Ironi adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir seseorang. Maka tidak heran jika sebagian ahli bahasa ada yang mengelompokkan majas ini ke dalam majas pertentangan.
Contoh:
  • Ini baru namana siswa teladan, setiap hari selalu datang jam 10.
  • Bagus sekali tulisanmu, sampai aku susah membacanya.
  • Wangi sekali parfum yang kamu pakai, sampai seisi kelas merasa mual.

2) Majas Sinisme

Sebagaimana majas ironi majas sinisme merupakan majas yang digunakan untuk maksud menyindir. Bedanya, pada majas ironi sindiran diungkapkan secara tidak langsung menggunakan kata-kata positif. Sedangkan sinisme  menyatakan sindiran secara langsung kepada orang lain dengan kata yang cenderung negatif.
Contoh :
  • Tingkah lakumu sangat konyol, tidak semestinya muncul dari seorang mahasiswa sepertimu.
  • Caramu mengaji tidak mencerminkan jika kamu pernah belajar di pesantren.


3) Majas Sarkasme

Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan jika sarkasme lebih sering digunakan untuk menyakiti orang atau lawan bicara. Makanya majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh:
  • Mual aku melihat wajahmu, pergi kamu!
  • Dasar keong sawah, kerja begini saja lama sekali!